Selasa, 18 Januari 2011

leadership

KEPEMIMPINAN
TRANSFORMASIONAL, TRANSAKSIONAL DAN VISIONER
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Leadership
Dosen Pengampu: Drs. H. Sardjuli, M.Pd


Disusun oleh:
Neneng Surani 08410176
Yayang Istiqomah 08410178
Adityo Putranto 08410179
Erna Iryawanti 08410180
Daluti Delimanugari 08410183
Ria Laily Husnia 08410184
Rina Elfiyani 08410185


PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2011
I. Pendahuluan
Berbagai pendapat dan definisi kepemimpinan muncul, sesuai dengan dari segi apa orang memandang segi kepemimpinan tersebut. Kepemimpinan dapat diartikan sebagai sifat-sifat, perilaku pribadi, pengaruh terhadap orang lain, pola-pola interaksi, hubungan kerja sama antar peran, kedudukan dari suatu jabatan administratif, dan presepsi lain-lain tentang legitimasi pengaruh (Wahjosumijo, 1999). Menurut Richad Hull (1999:135), Kepemipinan adalah kemampuan mempengaruhi pendapat, sikap dan perilaku orang lain. Hal ini berarti bahwa setiap orang mampu mengatur dan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama dan dapat berfungsi sebagai pemimpin. Kepemimpinan (leadership) merupakan proses yang harus ada dan perlu diadakan dalam kehidupan manusia selaku makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup bermasyarakat sesuai kodratnya bila mereka melepaskan diri dari ketergantungannya pada orang lain. Hidup bermasyarakat memerlukan pemimpin dan kepemimpinan. Kepemimpinan dapat menentukan arah atau tujuan yang dikehendaki, dan dengan cara bagaimna arah atau tujuan tersebu dapat dicapai.
Dari definisi di atas jelas bahwa, seorang pemimpin adalah orang yang memiliki posisi tertentu dalam hirarki organisasi. Ia harus membuat perencanaan, pengorganisasian dan pengawasan serta keputusan efektif. Pemimpin selalu melibatkan orang lain, Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa dimana ada pemimpin maka disana ada pengikut yang harus dapat mempengaruhi bawahannya untuk mencapai tujuan. Jadi kepemimpinan itu akan terjadi dalam situasi tertentu seseorang mempengaruhi perilaku orang lain. Kepemimpinan seseorang berperan sebagai penggerak dalam proses kerja sama antar manusia dalam organisasi termasuk sekolah. Berdasarkan pemikiran ini, maka harus dibedakan antara kepemimpinan dan manajemen.
Dalam makalah ini kami akan membahas kepemimpinan transaksional, transformasinal, dan visioner.

II. Rumusan Masalah
a. Apa pengertian kepemimpinan Transaksional?
b. Apa yang di maksud dengan kepemimpinan Transformasional?
c. Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan Visioner?

III. Pembahasan
A. Definisi Kepemimpinan Transaksional
Kepemimpinan Transaksional adalah:
1. Kepemiminan yang menekankan pada tugas yang diemban.
2. Lebih difokuskan pada perannya sebagai manajer karena ia sangat terlibat dalam aspek-aspek procedural manajerial yang metodologis dan fisik
3. Tidak mengembangkan pola hubungan laissez fair atau membiarkan personel menentukan sendiri pekerjaan karena dikhawatirkan dengan keadaan ini personel yang perlu pembinaan, pola ini dapat menyebabkan mereka menjadi pemalas dan tidak jelas apa yang dilakukan.
4. Dalam kontrak kerja dispakati reward dan punishment.
Menurut Masi and Robert (2000), kepemimpinan transaksional digambarkan sebagai mempertukarkan sesuatu yang berharga bagi yang lain antara pemimpin dan bawahannya (Contingen Riward), intervensi yang dilakukan oleh pemimpin dalam proses organisasional dimaksudkan untuk mengendalikan dan memperbaiki kesalahan yang melibatkan interaksi antara pemimpin dan bawahannya bersifat pro aktif.
Kepemimpinan Transaksional (Transactional Leadership Theory) mendasarkan pada asumsi bahwa kepemimpinan merupakan kontrak sosial antara pemimpin dan para pengikutnya. Pemimpin dan para pengikutnya merupakan pihak-pihak yang independen yang masing-masing mempunyai tujuan, kebutuhan dan kepentingan sendiri. Sering tujuan, kebutuhan dan kepentingan tersebut saling bertentangan sehingga mengarah ke situasi konflik.
Dalam teori kepemimpinan ini hubungan antara pemimpin dan para pengikutnya merupakan hubungan transaksi yang sering didahului dengan negosiasi tawar menawar. Jika para pengikut memberikan sesuatu atau melakukan sesuatu untuk pemimpinnya, pemimpin juga akan memberikan sesuatu kepada para pengikutnya. Jadi seperti ikan lumba-lumba di Ancol yang akan meloncat jika pelatihnya memberikan ikan. Jika pelatihnya tidak memberikan ikan, lumba-lumba tidak akan meloncat.
Kepemimpinan Transaksional memotivasi pengikut atau bawahan dengan minat pribadinya. Kepemimpinan ini juga melibatkan nilai-nilai, akan tetapi hal ini sebatas relevan bagi proses pertukaran (exchange process), tidak langsung menentuh substansi perubahan yang dikehendaki.
B. Kepemimpinan Transformasional
Pemimpin transformasional adalah pemimpin yang mampu memperhatikan keprihatinan dan kebutuhan pengembangan diri pengikut untuk mengeluarkan upaya ekstra untuk mencapai tujuan kelompok. Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa pamimpin transformasional merupakan pemimpin yang kharismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Pemimpin transformasional juga harus mempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa depan dengan bawahannya, serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan.
Yamarino dan Bass (1990), pemimpin trasformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. Pimpinan organisasi sekolah dengan kepemimpinan transformasional adalah mereka yang memotivasi pengikut untuk secara lebih dari yang ada sekarang mewujudkan minat pribadinya secara untuk lebih dari yang ada sekarang mewujudkan minat pribadinya secara segara guna bersama-sama menerjemahkan misi dan visi organisasinya.
Banyak manajer yang tidak memenuhi salah satu diantaraketrampilan yang dibutuhkan dalamperlaku kepemimpinan transformasional yaitu, manajemen diri, komunikasi interpersonal, pembimbingan dan manajemen masalah,tm dan pengembangan organisasi, luwes dalam gaya peran dan ketrampilan (Anderson,1998).
Transformasional leadership terdiri dari individualized consideration, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan idealized infulence (Sarros dan Santosa, 2001; Pounder, 2003):
• Idealized influence atau charisma. Para pemimpin menyediakan visi dan pengertian terhadap misi, memasukan kebanggan, memperoleh rasa hormat, kepercayan dan meningkatkan optimisme. Pemimpin seperti ini meningkatkan optimisme. Pemimpin seperti ini meningkatkan kegairahan dan dan menginspirasi para bawahannya. Sub-dimensi ini mengukur tingkat kekaguman dan kebanggan para pengikutnya.
• Individualiced consideration. Para leader memberiakan peltihan dan menotoring, menyediakan umpn balik berkeseinbungan dan menghubungkan kebutuhan anggota organisasi ke misi organisasi. Subdimensi merupakan suatu alat ukur terhadap tingakat yang mana pemimpin memperhatikan apa yang menyadari concern dan kebutuhan yang berkaitan dengan pengembengang para indiviu pengikutnya.
• Inspirtional motivational. Pemimpin bertindak sebagai sbuah model atau contoh (keteleadanaan) bagi para bawahanya, mengkomunikasi visi dan menggunkan symbol-symbol untuk mengfokuskan upaya-upaya yang dilakukan. Sub-dimensi ini mengukkur kemampuan pemimpin untuk menumbuhkan kepercayan (corfidence) terhadap visi dan nilai-nilai pemimpin.
• Intelectuall situmultion. Para pemimpin menstimulsi pengikutnya untuk memikirkan kembali cara atu metode kerja yang lama dan menilai kembali nilai-nilai dan keprcayaan merka yang lama. Dimensi ini berkenan denggan derajad dimana para pengikutnya disediakan tugas-tugas yang menentang dan didorong untuk memecahkan masalah dengn cara mereka sendiri.

C. Kepemimpinan Visioner
Komariah (2005) dalam Wahyudi (2009) mengemukakan bahwa kepemimpinan visioner (visionary leadership) dapat diartikan sebagai kemampuan pemimpin dalam menciptakan, merumuskan, mengkomunikasikan, mensosialisasikan, mentransformasikan, dan mengimplementasikan pemikiran-pemikiran ideal yang berasal dari dirinya atau sebagai hasil interaksi sosial diantara anggota organisasi dan stakeholders yang diyakini sebagai cita-cita organisasi di masa depan yang harus dicapai melalui komitmen semua personil.
Dengan demikian kepemimpinan visioner (visionary leadership) adalah kemampuan pemimpin untuk mencetuskan ide atau gagasan suatu visi selanjutnya melalui dialog yang kritis dengan unsur pimpinan/anggota organisasi dan stakeholders lainnya, merumuskan masa depan organisasi yang dicita-citakan yang harus dicapai melalui komitmen semua anggota organisasi melalui proses sosialisasi, transformasi, implementasi gagasan-gagasan ideal oleh pemimpin organisasi.
Konsep kepemimpinan visioner yaitu harus memahami visi, kharakteristik, unsur visi, dan tujuan visi. Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner, yaitu memiliki visi yang jelas ke arah mana organisasi akan di bawa. Visi adalah suatu gambaran mengenai masa depan yang kita inginkan bersama.
Unsur-unsur visi:
• Basic value (nilai-nilai dasar atau falsafah yang dianut)
• Mission: yaitu operasional dari visi yang merupakan pemikiran seseorang tentang organisasinya, meliputi pertanyaan, mau menjadi apa organisasi ini kemudian kemudian hari akan berperan sebagai apa?
• Objective yaitu tujuan-tujuan yang merupakan arah kemana oranisasi dibawa yang meliputi pertanyaan mau menghasilkan apa, untuk siapa, dan dengan mutu yang bagaimana?
Langkah-langkah kepemimpinan visioner:
1. Penciptaan visi
Trend watching adalah kemampuan tingkat tinggi dalam penciptaan visi, yaitu kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa yang akan datang melalui kepiawaian dalam bidang yang digeluti serta kepekaan terhadap signal-signal alam dan perubahan. Envisoning adalah kemampuan pimpinan untuk merumuskan visi berdasarkan hasil pengamatan trend perubahan yang akan terjadi dimasa yang akan datang.
2. Perumusan visi
Pembuatan dan perumusan visi oleh anggota tim kepemimpinan. Merumuskan strategi secara consensus. Membulatkan sikap dan tekad sebagai total commitment untuk mewujudkan visi menjadi suatu kenyataan.
3. Transformasi visi
Merupakan keampuan membangun kepercayaan melalui komunikasi yang intensif dan efektif sebagai upaya shared vision pada stakeholder sehingga diperoleh sence of belonging dan sence of ownership. Visi mesti ditransformasikan dengan melakukan upaya berbagai visi dan diharapkan terjadi difusi visi dan menimbulkan komitmen menurut personel. Dalam proses transformasi ini kadang visi suatu organisasi gagal karena antara lain; kerancuan visi dan misi, visi tersebut tidak didambakan, tidak mencerminkan penderitaan dan harapan, tidak diyakini dapat dicapai, tidak fleksibel, dan tidak didukung oleh strategi organisasi.
4. Implementasi visi
Merupakan kemampuan pemimpin dalam menjabarkan dan menterjemahkan visi dalam tindakan. Visi merupakan peluru bagi kepemimpinan ini, dan visi berperan dalam menentukan masa depan organisasi apabila diimplimentasikan secara komprehensif.
IV. Kesimpulan
Kepemimpinan merupakan proses yang harus ada dan perlu diadakan dalam kehidupan manusia selaku makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup bermasyarakat sesuai kodratnya bila mereka melepaskan diri dari ketergantungannya pada orang lain. Hidup bermasyarakat memerlukan pemimpin dan kepemimpinan. Kepemimpinan dapat menentukan arah atau tujuan yang dikehendaki, dan dengan cara bagaimana arah atau tujuan tersebut dapat dicapai. Kepemimpinan adalah kemampuan berupa ketrampilan, skill (kecakapan), performa, dan pengalaman manajerial dan administrasi yang dimiliki seorang pemimpin dalam satu organisasi untuk mempengaruhi orang-orang agar dapat bekerjasama secara sukarela dalam mencapai tujuan tertentu dalam organisasi yang dipimpinnya.
Kepemimpinan Transaksional dapat diartikan sebagai cara yang digunakan seorang pemimpin dalam menggerakkan anggotanya dengan menawarkan imbalan/akibat terhadap setiap kontribusi yang diberikan oleh anggota kepada organisasi. Kepemimpinan Transformasional adalah kepemimpinan yang membawa organisasi pada sebuah tujuan baru yang lebih besar dan belum pernah dicapai sebelumnya dengan memberikan kekuatan mental dan keyakinan kepada para anggota agar mereka bergerak secara sungguh-sungguh menuju tujuan bersama tersebut dengan mengesampingkan kepentingan/keadaan personalnya.
Kepemimpinan visioner adalah kemampuan pemimpin untuk menciptakan dan mengartikulasikan suatu visi yang realistik, dapat dipercaya, atraktif tentang masa depan bagi suatu organisasi atau unit organisasional yang terus bertumbuh dan meningkat sampai saat ini (Robbins;1994). Pemimpin mempunyai kekuatan untuk mencapai tujuan organisasi. Hal ini didasari oleh legitimasi secara formal atau non formal yang melekat pada diri pemimpin.


DAFTAR PUSTAKA

Danim, Prof. Dr. Sudarwan.Visi Baru Managemen Sekolah.2006. PT Bumi Aksara:Jakarta.
Usman,M.pd, Prof.Dr.Husaini .Manajemen.2006.Bumi Aksara:Jakarta
Sardjuli, M.Pd, Drs. H. Handout Leadership.2010.pertemuan ke 11
http://doktorwirawan.blogspot.com/2008/07/teori-kepemimpinan-transaksional.html
http://imronfauzi.wordpress.com/2008/06/15/model-model-kepemimpinan/
http://katresna72.wordpress.com/2010/07/04/kepemimpinan-visioner-dan-transformasional/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

berkomentarlah !!